Tugas hakim merupakan satu tugas yang amat berat, sehubungan dengan itu Islam mengariskan beberapa syarat seseorang itu berkelayakan dilantik sebagai hakim, antaranya ialah:
1. mestilah seorang islam tidak kafir.
2. Baligh iaitu sudah dewasa mengikut perkiraan syarak.
3. Berakal dan bukannya orang bodoh.
4. merdeka bukan hamba sahaya
5.Adil bukan seorang fasik dan zalim
6. memahami maksud ayat al Quran dan Hadith yang berkaitan soal keislaman.
7. mengetahui ijma` ulama dan perselisihan faham antara mereka.
8. mengetahui bahasa Arab sekadar dapat memahami ayat al Quran dan Hadith nabi mengenai hukum syarak.
9. Bijak dalam melakukan qias dan perbandingan.
10. Mempunyai pendengaran dan penglihatan yang cukup dan bukan orang yang lalai.
Insya Allah dikalam akan datang saya akan menyambung lagi isu berkaitan kehakiman. Dipetik dari artikel : tugas kehakiman dalam mahkamah.............daato Haji Daud bin Muhammad
Selasa, 26 April 2011
SYARAT-SYARAT SESEORANG LAYAK MENJADI HAKIM MENURUT ISLAM
Ahad, 10 April 2011
SIASAH SYAR`IYYAH ... SATU PENGENALAN
Ulama silam telah membicarakan Siasah syar`iyyah sebagai satu istillah Fiqh dalam penulisan mereka, Setengah menetapkan ia sebagai satu displin ilmu kenegaraan Islam, tapi tidak ramai membahaskan siasah syar`iyyah sebagai ilmu kenegaraan.
Ini menyebabkan pengertian Siasah Syar`iyyah secara kursus tidak dikemukakan kebanyakan ulama sebaliknya mereka membahaskan tajuk-tajuk tertentu yang ada kaitan dengan siasah syar`iyyah. Jadi untuk mengetahui tentang maksud dan bentuk pemakaian istilah siasah syar`iyyah maka kita perlu merujuk kepada sumber fiqh dalam berbagai mazhab Islam, terutamanya dalam bab jenayah seperti hudud, qisas dan takzir. Sumber politik Islam jugaturut diteliti dengan mendalam seperti al ahkam al sultahiyah oleh Mawardi, al Siyasah al Syar`iyyah oleh ibnu Taymiyah, Nizam al Hukm oleh Muhammad Yusuf Musa dan lain-lain lagi.
Berdasarkan kepada penelitian, kewujudan beberapa penulisan khusus tentang Siasah Syar`iyyah sebagai satu istilah tersendiri adalah untuk menjelaskan kedudukan dan peranan nya sebagai satu Mekanisme penting dalam pemerintahan Islam. Perkara ini diusahakan oleh beberapa sarjana dan ulama islam yang mengulas persoalan ini dalam berbagai format dan pendekatan, samada menyentuh secara langsung pokok perbincangan Siasah Syar`iyyah atau pun tidak secara langsung.
Sekiranya dibahas Siasah Syariyyah sebagai sebahagian daripada pengajian Fiqh atau pengajian Ijtihad, maka kedudukannya pastilah terbatas dan tidak akan berkembang. Malah dalam keadaan suasana tidak wujudnya negara Islam sejati seperti sekarang, akan menyebabkan siasah Syariyyah akan terus lenyap daripada dunia nyata atau akan dianggap monumen sejarah yang tersimpan dalam khazanah ilmu, dari itu langkah untuk mewujudkan semula siasah syariyyah sebagai satu displin ilmu utama dalam pengajian Islam adalah satu usaha yang sangat besar faedahnya kepada Islam dan manusia sejagat.
Sehubungan dengan itu dapatlah kita lihat beberapa penulisan silam dan semasa yang cuba mengekalkan kedudukan Siasah Syariyyah sebagai displin tersendiri sebagai mana yang muncul antaranya adalah Siasah Syariyyah wa al Fiqh oleh Abdul Rahman Taj dan Abdul wahab Khallaf dalam Siasah AL Syar`iyyah.....
insya Allah pada catatan akan datang saya akan sambung pengertian Siyasah dari sudut bahasa. Teruskan mengikuti catatan blog ini, anda pasti menemui catatan menarik berkaitan Siasah Syariyyah.
Khamis, 7 April 2011
Syirik: Memakai Gelang, Benang Dan Sejenisnya Sebagai Pengusir Atau Penangkal Mara Bahaya
Firman Allah,
" Katakanlah, 'Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru
selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah
berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah
hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?'
Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku'. Kepada-Nya lah bertawakkal orang-orang
yang berserah diri." (Az-Zumar: 38)
'Imran bin Hushain menuturkan bahwa Nabi melihat seorang laki-laki terdapat
di tangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya,
"Apakah ini?" Orang itu menjawab, "Penangkal sakit." Nabi pun bersabda,
"Lepaskan itu, karena dia hanya menambah kelemahan pada dirimu; sebab
jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan
beruntung selama-lamanya." (Hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang
diterima)
Dalam riwayat Imam Ahmad pula dari 'Uqbah bin 'Amir dalam hadits marfu',
"Barangsiapa menggantungkan tamimah semoga Allah tidak mengabulkan
Termasuk Syirik: Memakai Sesuatu Sebagai Pengusir/Penangkal Bahaya
keinginannya; dan barangsiapa yang menggantungkan wada'ah , semoga Allah
tidak memberikan ketenangan pada dirinya
." Disebutkan dalam riwayat lain," Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik."
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hufaidzah, bahwa ia melihat seorang laki laki
di tangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan
benang itu seraya membaca fi rman Allah yang bermaksud:
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan
dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). "
(Yusuf: 106)
Adalah kita dilarang :
1. memakai gelang, benang dan sejenisnya untuk maksud maksud
seperti tersebut di atas
2. Dinyatakan bahwa sahabat tadi apabila mati, sedangkan gelang (atau
sejenisnya) itu masih melekat pada tubuhnya, dia tidak akan beruntung. Ini
menunjukkan kebenaran pernyataan para sahabat bahwa "Syirik ashghar
lebih berat daripada perbuatan dosa besar."
3. Syirik tidak dapat dimaafkan dengan alasan karena tidak mengerti
4. Gelang, benang dan sejenisnya tidak berguna untuk menolak atau mengusir
suatu penyakit, bahkan berbahaya; karena Nabi bersabda, "... karena dia
hanya akan menambah kelemahan pada dirimu."
5. Mengingkari dengan keras terhadap orang yang melakukan perbuatan
seperti itu
6. Tamimah , sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebgai penangkal atau pengusir
penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang dan lain lagi sebagainya.
7. Wa'adah sesuatu yang diambil dari laut, menyerupai rumah kerang; menurut anggapan
orang-orang jahiliyah dapat digunakan sebagai penangkal penyakit.
halal dan haram dalam islam
POKOK-POKOK AJARAN ISLAM TENTANG HALAL DAN HARAM
PERSOALAN halal-haram adalah seperti halnya soal-soal lain, di mana orang-orang jahiliah pernah tersesat dan mengalami kekacauan yang luarbiasa, sehingga mereka berani menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal.
Keadaan yang sama pernah juga dialami oleh golongan penyembah berhala (watsaniyin) dan ahli-ahli kitab.
Kesesatan ini akhirnya dapat menimbulkan suatu penyimpangan yang ekstrimis kanan, atau suatu penyimpangan yang ekstrimis kiri.
Di pihak kanan, misalnya: Kaum Brahmana Hindu, Para Rahib Kristen dan beberapa golongan lain yang berprinsip menyiksa diri dan menjauhi hal-hal yang baik dalam masalah makanan ataupun pakaian yang telah diserahkan Allah kepada hambaNya.
Kedurhakaan para rahib ini sudah pernah mencapai puncaknya pada abad pertengahan. Beribu-ribu rahib mengharamkan barang yang halal sehingga sampai kepada sikap yang keterlaluan. Sampai-sampai di antara mereka ada yang menganggap dosa karena mencuci dua kaki, dan masuk kamar mandi dianggap dapat membawa kepada penyesalan dan kerugian.
Dari golongan ekstrimis kiri, dapat dijumpai misalnya aliran Masdak yang timbul.di Parsi. Golongan ini menyuarakan kebolehan yang sangat meluas. Kendali manusia dilepaskan, supaya dapat mencapai apa saja yang dikehendaki. Segala-galanya bagi mereka adalah halal, sampaipun kepada masalah identitas dan kehormatan diri yang telah dianggapnya suci oleh fitrah manusia.
Bangsa Arab di zaman Jahiliah merupakan contoh konkrit, betapa tidak beresnya barometer untuk menentukan halal-haramnya sesuatu benda atau perbuatan. Oleh karena itu membolehkan minuman-minuman keras, makan riba yang berlipat-ganda, menganiaya perempuan dan sebagainya. Lebih dari itu, mereka juga telah dipengaruhi oleh godaan syaitan yang terdiri dari jin dan manusia sehingga mereka tega membunuh anak mereka dan mengunyah-ngunyah jantungnya. Godaan itu mereka turutinya juga. Perasaan kebapaan yang bersarang dalam hatinya, samasekali ditentang.
"Dan begitu juga kebanyakan dari orang-orang musyrik itu telah dihiasi oleh sekutu-sekutu mereka untuk membunuh anak-anak mereka guna menjerumuskan mereka dan meragu kan mereka agama mereka. " (al-An'am : 137)
Para sekutu dari pelindung berhala itu melalui berbagai cara dalam mengganggu kaum bapa untuk membunuh anak-anak mereka antara lain:
- takut miskin.
- takut tercela, kalau anak yang lahir itu wanita.
- demi bertakarrub kepada Tuhan, yaitu dengan mengorbankan anak.
Satu hal yang mengherankan, yaitu bahwa mereka yang membolehkan membunuh anak, baik dengan dipotong ataupun dengan ditanam hidup-hidup, tetapi justeru mengharamkan beberapa makanan dan binatang yang baik-baik.
Dan yang lebih mengherankan lagi, bahwa itu semua dianggapnya sebagai hukum agama. Mereka nisbatkannya kepada Allah. Tetapi kemudian oleh Allah, anggapan ini dibantah dengan firmanNya:
"Mereka berpendapat: ini adalah binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terlarang, tidak boleh dimakan kecuali orang-orang yang kami kehendaki menurut anggapan mereka dan juga diharamkan untuk dinaiki, dan binatang-binatang yang mereka tidak sebut asma Allah atasnya karena hendak berbuat dusta atas nama Allah. (Begitulah) mereka itu kelak akan dibalas lantaran kedustaan yang mereka perbuat." (al-An'am: 138)
Al-Quran telah menegaskan kesesatan mereka yang berani menghalalkan sesuatu yang seharusnya haram, dan mengharamkan sesuatu yang seharusnya halal; al-Quran mengatakan:
"Sungguh rugilah orang-orang yang telah membunuh anak-anak mereka lantaran kebodohannya dengan tidak mengarti itu, dan mereka yang telah mengharamkan rezeki yang Allah sudah berikan kepada mereka (lantaran hendak) berdusta atas (nama) Allah; mereka itu pada hakikatnya telah sesat, dan mereka itu tidak mau mengikuti pimpinan." (al-An'am: 140)
Kedatangan Islam langsung dihadapkan dengan kesesatan dan ketidak-beresan tentang persoalan halal dan haram ini. Oleh karena itu pertama kali undang-undang yang dibuat guna memperbaiki segi yang sangat membahayakan ini ialah dengan membuat sejumlah Pokok-pokok Perundang-undangan sebagai standard untuk dijadikan landasan guna menentukan halal dan haram. Seluruh persoalan yang timbul, dapat dikembalikan kepadanya, seluruh neraca kejujuran dapat ditegakkan; keadilan dan keseimbangan yang menyangkut soal halal dan haram dapat dikembalikan.
Oleh karena itu ummat Islam menduduki sebagai golongan penengah (ummatan wasathan) di antara ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri sebagaimana telah ditegaskan sendiri oleh Allah; yaitu dengan dijadikan ummat Islam ini sebagai ummat pilihan (khaira ummah) yang diketengahkan ke hadapan ummat manusia.1
Rabu, 6 April 2011
bermulanya ketentuan Allah................................siri 2
Sambung dari kisah siri 1....
Saya menjadi guru...... setamat nya pengajian saya fikir apa nak dilaksanakan,,,,,,kerja atau belajar .....
hati mendesak untuk berkerja maka saya memulakan langkah pertama berkerja di sebuah kedai buku di Kota Bharu adalah 3 bulan, income pun RM370 masa tu okey le ayam RM4.50 seekor murah kan..... Tapi saya berjimat dengan bawa bekal dari rumah jadi lah nak tampung hidup.
lama kemudian penaja biasiswa datang cari, kata mereka ada kerja kosong, saya pun buat persiapan dan berpindah mereka angkut dengan van penuh satu van rupanya barang saya,tapi kebanyakanya kitab yang saya guna waktu belajar dulu boleh le buat mini perpustakaan.
Bila bertolak rasa lama juga nak sampai ke tempat tujuan, masuk kampung orang Asli rupanya di Sungai Siput jauh ke dalam yang saya nampak hanyalah pokok-pokok sawit dan hutan, tertanya dalam hati kemana lah mereka bawa aku ni. Bila sampai terkejut juga le dalam kawasan kampung Orang Asli ni ada sebuah bangunan sekolah Agama tiga tingkat yang tersergam Indah sebab masa tu hanya dia je bangunan batu, rumah keliling semua dari buluh dan papan. Rupanya disinilah tempat mula saya cari rezeki lepas belajar agama, Saya ditempatkan ditingkat tiga bangunan sebab dua tingkat lagi telah diguna untuk kelas, tak apa lah tak kisah asal ada rumah jadi le. Saya disambut baik penduduk disitu... seronok penduduk disitu baik belaka. Cuma yang tak seronok air masih guna sungai dan tiada elektrik tapi tak mematahkan semangat saya untuk berkhidmat disitu.
Ustaz yang membawa saya tadi ajak menetap dirumah dia dulu, katanya nantilah kita masuk rumah tu sebab tak cukup perkakas lagi, apa pun tak ada, dia terlalu baik hingga segan juga di buatnya , maka kami bertolaklah ke rumahnya di masjid kampung Tasek waktu tu masih dalam bulan Ramadhan senang le nak bersahur dan berbuka depan masjid ......jimat kos. saya rasa sampai sini dulu nanti saya sambung masa akan datang.
Saya menjadi guru...... setamat nya pengajian saya fikir apa nak dilaksanakan,,,,,,kerja atau belajar .....
hati mendesak untuk berkerja maka saya memulakan langkah pertama berkerja di sebuah kedai buku di Kota Bharu adalah 3 bulan, income pun RM370 masa tu okey le ayam RM4.50 seekor murah kan..... Tapi saya berjimat dengan bawa bekal dari rumah jadi lah nak tampung hidup.
lama kemudian penaja biasiswa datang cari, kata mereka ada kerja kosong, saya pun buat persiapan dan berpindah mereka angkut dengan van penuh satu van rupanya barang saya,tapi kebanyakanya kitab yang saya guna waktu belajar dulu boleh le buat mini perpustakaan.
Bila bertolak rasa lama juga nak sampai ke tempat tujuan, masuk kampung orang Asli rupanya di Sungai Siput jauh ke dalam yang saya nampak hanyalah pokok-pokok sawit dan hutan, tertanya dalam hati kemana lah mereka bawa aku ni. Bila sampai terkejut juga le dalam kawasan kampung Orang Asli ni ada sebuah bangunan sekolah Agama tiga tingkat yang tersergam Indah sebab masa tu hanya dia je bangunan batu, rumah keliling semua dari buluh dan papan. Rupanya disinilah tempat mula saya cari rezeki lepas belajar agama, Saya ditempatkan ditingkat tiga bangunan sebab dua tingkat lagi telah diguna untuk kelas, tak apa lah tak kisah asal ada rumah jadi le. Saya disambut baik penduduk disitu... seronok penduduk disitu baik belaka. Cuma yang tak seronok air masih guna sungai dan tiada elektrik tapi tak mematahkan semangat saya untuk berkhidmat disitu.
Ustaz yang membawa saya tadi ajak menetap dirumah dia dulu, katanya nantilah kita masuk rumah tu sebab tak cukup perkakas lagi, apa pun tak ada, dia terlalu baik hingga segan juga di buatnya , maka kami bertolaklah ke rumahnya di masjid kampung Tasek waktu tu masih dalam bulan Ramadhan senang le nak bersahur dan berbuka depan masjid ......jimat kos. saya rasa sampai sini dulu nanti saya sambung masa akan datang.
Langgan:
Catatan (Atom)